Beberapa hari kemudian, Langit senja di atas Sekte Api Langit berpendar kemerahan saat lima sosok meluncur dengan pedang terbang, menyusuri angin yang bertiup lembut di puncak gunung. Ling Mei berada di depan bersama Li Wei yang ikut bersamanya dipedang yang sama, memimpin perjalanan, sementara di belakangnya, keempat saudara perguruan mereka mengikuti dalam formasi rapi.

Di bawah mereka, gerbang utama sekte yang megah sudah terlihat. Gerbang itu menjulang tinggi dengan ukiran naga api yang meliuk-liuk, matanya berkilat seperti bara yang menyala. Bangunan-bangunan utama sekte berdiri kokoh dengan atap merah menyala dan tiang-tiang emas yang berkilauan diterpa cahaya senja. Lautan awan mengelilingi puncak gunung, menciptakan suasana yang seakan sekte ini berada di dunia yang berbeda.

Saat mereka semakin mendekat, beberapa murid yang sedang berlatih di pelataran tiba-tiba menghentikan gerakan mereka. Seorang murid yang lebih awas berseru, "Itu Kakak Ling Mei dan Li Wei!"

Seruan itu segera disambut dengan sorak sorai. Murid-murid sekte, baik yang baru maupun yang lebih senior, segera berhamburan ke pelataran, menengadah ke langit dengan penuh antusias.

Begitu Ling Mei dan rombongan mendarat di depan aula utama, suasana riuh menyambut mereka.

"Kakak Ling Mei! Li Wei!"

"Kakak Ling Mei kembali! Akhirnya ada yang bisa mengajari kita teknik pedang lagi!"

"Li Wei! Sudah setahun kau pergi! Kami pikir kau lupa jalan pulang!"

"Kau harus bercerita banyak pada kami! Bagaimana keadaan kakakmu?"

Li Wei tertawa lebar, langsung menepuk-nepuk pundak beberapa murid yang mendekatinya. "Hahaha! Aku baik-baik saja! Kakakku juga sudah sembuh! Tapi aku rasa kalian yang harus aku tanyai! Apa kalian tidak semakin malas berlatih tanpaku?" katanya dengan nada menggoda.

Beberapa murid tertawa, sementara yang lain pura-pura merengut. "Jangan meremehkan kami, Li Wei! Kalau kau tidak percaya, ayo kita buktikan dengan duel!"

Li Wei mengangkat kedua tangannya, berpura-pura menyerah. "Baik, baik! Tapi nanti! Sekarang aku ingin makan dan beristirahat dulu!"

Sementara itu, Ling Mei juga dikerumuni oleh para murid yang lebih muda, terutama mereka yang ingin memperdalam teknik pedang.

"Kakak Ling Mei, kapan kau akan mulai mengajar lagi?"

"Aku mencoba meniru teknikmu, tapi rasanya masih ada yang kurang!"

"Kakak Ling Mei, kau harus melihat perkembangan kami! Jangan hanya mengajari Li Wei saja!"

Ling Mei tersenyum tipis, mengangguk kepada mereka satu per satu. "Tenang saja. Aku baru saja tiba, biarkan aku beristirahat dulu. Setelah itu, kita bisa lihat seberapa jauh kalian berkembang."

Di tengah suasana penuh kegembiraan itu, Ling Mei sempat melirik ke arah aula utama, tempat para tetua sekte berdiri berjajar menyambut mereka.

Biasanya, Tetua Huang, lelaki tua berjanggut putih yang selalu penuh semangat, akan menyambut mereka dengan kata-kata lantang dan kebanggaan. Namun kali ini, ekspresinya tampak lebih tenang, terlalu tenang.

Ling Mei menyipitkan mata, memperhatikan para guru satu per satu. Tatapan mereka lembut, namun terasa menyimpan sesuatu. Ada sesuatu yang tidak mereka katakan.

Apa yang sebenarnya terjadi di sekte saat kami tidak ada?

***

Kota Zhurong terletak di wilayah selatan, dikelilingi perbukitan berbatu dan hutan lebat yang sering digunakan oleh para pendekar sebagai tempat latihan. Tidak seperti Kota Huoling yang lebih berfokus pada perdagangan, Zhurong dikenal sebagai kota para pendekar, tempat di mana banyak sekte kecil dan keluarga ahli pedang bermukim.

Jalan utama kota ini lebih lebar dari Huoling, dipenuhi toko-toko senjata yang memamerkan berbagai jenis pedang, dari bilah panjang elegan hingga pedang besar yang ditempa dengan teknik khusus. Beberapa toko bahkan menjual pedang dengan ukiran formasi yang dapat meningkatkan ketajaman atau kecepatan serangan. Selain itu, di berbagai sudut kota, tampak murid-murid muda dari berbagai sekte berlatih pedang, saling beradu kecepatan dan teknik dengan semangat tinggi.

Di pusat kota, Paviliun Api Emas berdiri megah dengan tiga lantai yang dihiasi lampion merah dan emas. Rumah makan ini menjadi tempat favorit para pendekar untuk bersantai setelah latihan atau duel. Aroma masakan khas seperti daging panggang berbumbu pedas dan anggur beras berkualitas memenuhi udara, menggoda siapa saja yang lewat.

Tak jauh dari sana, Paviliun Bulan Perak berdiri sebagai penginapan terbaik di kota ini. Penginapan ini menawarkan pelayanan kelas atas bagi para tamu yang mampu membayar. Lantai atasnya menyediakan kamar dengan pemandangan langsung ke alun-alun tempat sering diadakan duel terbuka. Tidak jarang, pendekar yang baru saja memenangkan pertarungan langsung disambut dengan jamuan di sana.

Saat Lynx dan Jelita memasuki kota, mereka tidak menarik perhatian. Pakaian mereka sederhana, tidak mencolok di antara para pendekar yang berlalu-lalang dengan jubah khas sekte masing-masing. Mereka berjalan santai menyusuri jalan utama, mengamati suasana kota yang penuh dengan semangat persaingan para pendekar muda.

“Tempat ini lebih ramai daripada yang kuduga,” gumam Jelita, matanya menyapu kerumunan pendekar yang sedang berdiskusi tentang teknik pedang di depan salah satu toko senjata.

Lynx mengangguk kecil. “Tidak mengherankan. Banyak ahli pedang kudengar berasal dari kota ini, dan sepertinya mereka terus melahirkan generasi baru yang ambisius.”

Mereka melanjutkan perjalanan menuju Paviliun Bulan Perak, berniat mencari penginapan sebelum memulai pencarian mereka di kota ini.

Begitu mereka melangkah masuk ke dalam Paviliun Bulan Perak, aroma dupa yang lembut bercampur wangi teh menyambut mereka. Suasana penginapan itu terasa tenang dan nyaman, dengan lantai kayu mengkilap serta lampion kristal yang memancarkan cahaya keemasan.

Seorang pelayan segera menghampiri mereka dengan senyum ramah. "Selamat datang di Paviliun Bulan Perak. Apa yang bisa saya bantu?" tanyanya sopan.

"Kami ingin menyewa dua kamar," ujar Jelita tanpa ragu.

Pelayan itu mengangguk dan membimbing mereka ke meja penerima tamu, di mana seorang wanita paruh baya dengan pakaian anggun tengah mencatat daftar tamu. "Kami memiliki beberapa kamar kosong. Apakah kalian menginginkan kamar biasa atau kamar dengan pemandangan ke alun-alun?"

"Kamar biasa saja," jawab Lynx. Mereka tidak ingin menarik perhatian lebih dari yang diperlukan.

Wanita itu mengangguk, lalu menyerahkan dua kunci kepada mereka setelah Lynx membayar sewanya. "Silakan naik ke lantai dua, kamar kalian berada di ujung lorong. Jika ada keperluan, cukup panggil pelayan."

Mereka naik ke lantai dua dan menemukan kamar mereka bersebelahan. Setelah membuka pintu, Lynx melihat bahwa ruangan itu sederhana namun bersih. Di dalamnya terdapat satu dipan kayu, meja kecil dengan lampu minyak, serta jendela yang menghadap ke halaman dalam penginapan.

Jelita berdiri di depan pintu kamarnya. "Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanyanya.

Lynx menyandarkan diri ke kusen pintu, menatap ke arah lorong. "Untuk saat ini, kita menunggu. Tuan Zhen Huan berkata ada seseorang yang harus aku temui dikota ini."

Jelita menautkan alis. "Siapa?"

"Itu yang aku juga penasaran." Lynx menatap kunci kamar di tangannya. "Tuan Zhen Huan tidak menyebutkan namanya, tapi dia cukup yakin aku akan mengenalinya."

Jelita menghela napas. "Kalau begitu, tidak ada yang bisa kita lakukan selain menunggu. Semoga orang itu benar-benar membawa kabar baik."

Lynx hanya tersenyum tipis tanpa menjawab. Meski tampak tenang, pikirannya terus menebak-nebak siapa yang akan datang dan apa yang akan dibawanya.

Dengan waktu yang masih tersisa, mereka memilih untuk beristirahat di kamar masing-masing, menyiapkan diri untuk pertemuan yang mungkin akan mengubah arah perjalanan mereka.

Jelita tidak banyak bicara dan segera masuk ke kamarnya. Sejak meninggalkan Kota Huoling, ia merasa sikap Lynx berbeda. Pemuda itu lebih pendiam, seolah menanggung beban pikiran yang sangat berat.

Sementara itu, Lynx duduk bersila di atas dipan dan mengedarkan energinya, mencoba merasakan keberadaan kertas formasi yang ia berikan kepada Ling Mei melalui Li Wei.

"Sepertinya mereka memang sudah sampai di tujuan. Beberapa hari ini aku merasakan kertas formasi itu masih berada di area yang sama," batinnya.

Lynx memperkirakan bahwa dengan kecepatannya, ia bisa mencapai tempat itu dalam waktu sekitar beberapa jam. Namun, ia memutuskan untuk menundanya.

"Nantilah, aku akan mengunjunginya setelah urusanku selesai. Aku bisa saja menggunakan portal agar segera sampai, tetapi menggunakan portal sembarangan di tempat ini dapat membuat pertanyaan orang-orang mengenai identitasku."

Ia membuka matanya perlahan, membiarkan pikirannya kembali fokus pada pertemuan yang akan segera terjadi.

